Parenting Anak: Bukan Tak boleh Marah, Tapi Mengubah Cara Marah
Biasanya, untuk keumuman orang Indonesia, pada zaman dahulu parenting tidak dianggap penting. Orang tua biasa mengasuh anak sebagaimana para pendahulunya. Alasannya, “Saya juga dulu digituin sama orangtua saya, tapi saya ga apa-apa.” Begitu kira-kira bahasanya. Barangkali hal tersebut bisa dipahami karena pada zaman itu akses literasi terkait parenting anak masih kurang.
Juga, jangan melupakan bahwa setiap individu itu punya keunikan masing-masing dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Jadi, alangkah lebih bijaksananya tidak disamakan, dulu saya dibeginikan, begini begitu dan saya tetap baik-baik saja. Namun, belum tentu individu lainnya diperlakukan dengan cara yang sama dan masih baik-baik saja.
Barangkali juga, kita merasa baik-baik saja padahal jika dilihat dari sudut pandang lainnya, sebenarnya kita bermasalah.
Parenting Anak Mempengaruhi Kesehatan Mental Anak
Zaman sekarang, khususnya para orangtua muda, juga para orangtua yang melek internet dan peka terhadap tumbuh kembang anak, biasanya lebih mau belajar tentang parenting anak. Terutama sekali, zaman sekarang sudah banyak seminar-seminar online terkait parenting. Edukasi tentang parenting sudah bisa dipungut di sembarang media sosial dari para ahlinya. Mudah sekali, hanya modal pulsa, ponsel pintar dan keinginan untuk belajar orangtua sekarang bisa mendapatkan ilmu tentang cara pengasuhan anak.
Salah cara mengasuh anak berdampak besar trauma yang akan dialami anak, sifat atau karakter negatif tertentu, cara berpikir, rasa percaya diri dan lain-lain. Jangan pernah menganggap hal-hal seperti ini tidak penting atau tak ada kaitannya dengan masa depan.
Lebih mudahnya, saya kasih contoh begini:
Orang dewasa yang punya kecenderungan kurang percaya diri, kurang empati dan kemampuan mengelola emosi, bisa jadi salah satunya tidak memiliki kedekatan emosi dengan orangtuanya. Pertanyaannya, mengapa tidak ada kedekatan emosi? Di antara banyak faktor, salah satunya sering dimarahi saat kecil.
Bisakah dibayangkan saat anak tersebut dewasa, sudah bekerja di sebuah perusahaan akan sulit baginya membangun relasi dengan teman kerja jika tidak punya rasa percaya diri. Saat ia bermasyarakat, dengan kemampuan mengelola emosi yang buruk, maka ia akan menjadi individu yang dijauhi dan tidak disukai karena mudah marah, tersinggung, misalnya.
Namun demikian, bukan tidak boleh marah sih, tetapi lebih kepada bagaimana cara orangtua marah pada anaknya. Marahnya orangtua pada anak bagaimanapun perlu, supaya anak memahami kesalahannya. Akan tetapi marah yang bagaimana? Apakah cara marahnya mempengaruhi psikis anak secara negatif? Ataukah melukai fisik anak? Semuanya ini dibahas dalam buku “Don't be Angry Mom”
Dalam sebuah penelitian, anak yang sering mendapat kemarahan yang kronis atau serangan secara fisik dari orang tuanya, besar kemungkinan mengalami isu-isu terkait kesehatan mental seperti kecemasan, depresi dan PTSD (post-traumatic stress disorder) atau stress pasca trauma. Individu-individu ini juga bermasalah dengan manajemen kemarahan dan terlibat perilaku yang tidak sehat secara fisik maupun mental, dilansir PMHC.
Orangtua perlu tahu, ini semua adalah luka yang tidak dapat dilihat dengan kasat mata. Seseorang tidak dapat melihat kesehatan mental orang lain, kecuali pernah mengalami beberapa kejadian yang tidak menyenangkan dengannya. Barulah, di situ kita bisa menilai kesehatan mentalnya.


Komentar
Posting Komentar