Cara Mendapatkan Ide Menulis Novel Bersama Asma Nadia


Pertemuan pertama bersama bunda Asma Nadia berbicara tentang cara mendapatkan ide menulis novel. Pertemuan pertama itu dilaksanakan via zoom, jam 19.15 bersama Asma Nadia. Pada pertemuan itu bunda Asma Nadia mengatakan bahwa menjadi penulis itu pekerjaan yang menyenangkan, sebab dari satu novel saja penghasilannya bisa berkali-kali. Maksudnya, selain dapat royalti dari novel yang kita tulis, juga akan ada penghasilan lainnya dari novel kita jika ada PH yang tertarik memfilmkannya atau membuatnya jadi sinetron. Sehingga, bisa dikatakan kerjanya sekali penghasilannya berkali-kali. Seru ya? 

Bunda Asma menyebutkan cara mendapatkan ide menulis novel, salah satunya melalui kejadian. Contoh novel bunda Asma Nadia yang sudah sudah difilmkan dan terinspirasi dari kejadian berjudul “Assalamualaikum baitullah dan Assalamualaikum Beijing.” Berhubung banyak penggemar bunda Asma Nadia yang curhat melalui media sosialnya atau bahkan email, bunda Asma Nadia jadi mendapatkan banyak ide untuk menuliskan novel. Kita bisa simpulkan, bahwa kejadian yang dialami orang lain bisa jadi cara mendapatkan ide menulis novel. Namun, karena ini menyangkut privasi orang lain, penulis tentu harus amanah atau terpercaya. Karenanya, penulis harus meminta izin dahulu pada si pemilik kisah. Jika diijinkan, maka penulis dapat menuangkannya dalam bentuk novel tapi….dengan beberapa penyamaran sehingga tidak terlalu spesifik pada individu tertentu. Penyamaranya ini bisa dengan mengubah nama, jumlah anak, mengubah jenis kelamin dan lain-lainnya. 

Menjadikan pengalaman pribadi sebagai cara mendapatkan ide menulis novel? Why not! Saya rasa, menjadikan pengalaman pribadi menjadi novel salah satu bentuk pelampiasan emosi. Daripada dilampiaskan dalam hal-hal negatif, ada baiknya dalam bentuk karya. Misalnya, jika ada pengalaman pribadi mengurus anak berkebutuhan khusus, nah ini bisa menjadi salah satu ide. Dalam novel tersebut penulis bisa menceritakan bagaimana sabarnya dalam mengurus anak berkebutuhan khusus, proses belajarnya dan sebagainya. Menjadikan pengalaman orang lain sebagai novel juga tak masalah selama ada izin dari sang pemilik kisah. Misalnya, novel “Bidadari untuk Dewa” diangkat dari kisah nyata seorang pengusaha muda yang terlilit hutang, tetapi ia mampu melewati ujiannya hingga berhasil menjadi pengusaha sukses di usia muda. 

Selain itu, ide menulis novel bisa juga loh diangkat dari tulisan orang lain tetapi dengan mengambil angle yang berbeda. Misalnya, novel Asma Nadia berjudul “Emak Ingin Naik Haji” terinspirasi dari novel berjudul Bible, jika saya tak salah dengar kurang lebih begitu. Asma Nadia juga menceritakan salah satu cerpennya berjudul “Cut Rani” terinspirasi dari sebuah foto yang diambil suaminya ketika ada peristiwa Tsunami di Aceh. Dalam foto tersebut, Asma melihat seorang laki-laki berwajah lusuh dengan memangku tulisan “Nyari Istri.” Foto seorang ibu di kuburan anaknya yang berusia 8 tahun, juga menjadi salah satu ide tulisan Asma Nadia. 

Tren aktual, hasil penelitian, musibah, bahkan mimpi bahkan bisa menjadi ide tulisan, kata bunda Asma dalam pertemuan pertama kami. Namun, khusus untuk tren aktual harus buru-buru direalisasikan karena jika sudah tidak jadi tren lagi, barangkali akan menjadi tulisan yang tidak menjual. 

Salah satu hal yang menarik perhatian saya, ketika bunda Asma menyebutkan hikmah jadi penulis berdasarkan pengalaman pribadinya. Beliau menjungungi 74 negara dan 563 kota, mengikuti berbagai program kepenulisan selama beberapa bulan di Inggris, swiss, Korea, Jepang, Cina. Menjadi penulis juga merupakan profesi yang bisa diduetkan dengan profesi lainnya. Misalnya, dokter yang penulis, guru yang penulis. 

Akhir kata ijinkan saya mengutip perkataan bunda Asma Nadia, “Ide menulis merupakan harta karun yang harus ditemukan dan dituliskan.” Jadi, untuk para pembaca ku yang tercinta, jika ada keinginan untuk mengikuti program kepenulisan bersama tinta langit, daftar linknya disini yah…




Komentar

Postingan Populer