Penyakit Mental Itu Nyata!






Walaupun penyakit mental itu nyata, tapi banyak orang yang tak menyadari bahwa dirinya sakit. Jika sakit fisik itu nyata karena terlihat oleh mata, sementara itu penyakit kesehatan mental itu nyata tapi tak terlihat oleh mata. Saya pernah melihat orang gila yang pakaiannya compang-camping, berwajah garang, kotor dengan auratnya yang terbuka tanpa ia merasa risih sedang marah-marah di jalan. Ia mengatakan, "Saya dibilang gila sama anak-anak. Enak aja!!" Ya kan? Orang gila yang jelas-jelas gila saja tak merasa dirinya gila. Begitupun  kita yang "merasa" mentalnya sehat, kadang tak merasa dan tak mau mengakui jika dirinya sakit mental. 

Orang dengan penyakit mental, dia bisa berjalan-jalan diantara kita dengan pakaian yang rapi, wajah yang menawan, senyum yang paling manis dan tutur kata yang sopan di telinga. Tapi, kita tidak tahu aslinya dia di belakang kita. Dia bisa berdiri di depan kita sebagai seorang dokter, anak, orang tua, guru, dosen, tukang bangunan, tukang becak, ahli mesin, CEO perusahaan tapi kita tak pernah tahu aslinya dia. Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa diri kita yang sebenarnya adalah saat kita sedang sendiri. Ini berarti, saat sedang sendiri kita akan melepaskan topeng kita dengan semua kelemahan, keburukan kita. Apakah kita sedang nonton video porno saat sedang sendiri? Apa kita sedang membaca buku? Apa kita sedang stalking mantan saat sendiri? Apa sedang menghirup segelas kopi hangat sambil memikirkan investasi masa depan? Atau jangan sedang menangis tersedu-sedu padahal di depan orang lain tertawa-tawa riang seolah orang paling bahagia sedunia. Saat sendiri, kita bisa menjadi malaikat atau setan dan benar-benar menelanjangi diri sendiri tanpa topeng.

Ada sebuah kisah nyata seseoraang yang datang kepada saya sambil tersenyum tegar. Ia tertawa-tawa riang sambil tersenyum, seolah tanpa beban menceritakan kisah hidupnya yang malang. Namun, di suatu titik senyumnya yang riang tiba-tiba hilang karena tak tahan lagi menutupi kesedihan yang mencabik-cabik hatinya seolah sebilah pisau tajam sedang menyayat-nyata dadanya.  Ia bercerita, suaminya yang seorang pegawai BUMN, lulusan terbaik di Universitas unggulan di kotanya dengan predikat Summa Cum Laude, jabatan yang mentereng, pemimpin yang tegas dan berwibawa di kantornya ternyata di rumah hanyalah seorang anak kecil yang suka tantrum saat keinginannya tak terpenuhi. Ternyata, ia hanyalah seorang ayah yang tak mempedulikan anaknya, ternyata ia suami yang kasar kepada wanita yang menemaninya dari titik terendah dan ternyata ia suka bermain gila, nonton video porno. See??? Ia menunjukkan aslinya ketika sedang sendiri. Apakah ia sedang menderita sesuatu yang disebut sebagai penyakit kesehatan mental ? Ya....

Terkuaklah sebuah cerita masa lalu tentang masa kecil sang suami yang "nampak" sebagai pria berwibawa itu. Saat bayi ia diserahkan orangtuanya kepada kakek dan neneknya untuk dirawat. Sang istri mengatakan, "Saya tidak tahu alasannya, tapi saya menduga karena menutupi aib dari tetangga sebab ia sudah ada dalam kandungan saat orangtuanya menikah." Dalam asuhan kakeknya, ia dididik keras. Saat marah, kakeknya akan berteriak keras dan pernah ia hampir disiram air panas. Menjelang SD kelas 1, sang suami dikembalikan pada orangtuanya dan menerima perlakuan selalu dibanding-bandingkan dengan adik perempuannya yang lebih nurut dan pintar. Sang suami yang masih kecil, menyadari perlakuan yang berbeda itu. Hatinya terbakar dan  berniat belajar lebih giat, menjadi juara kelas dengan niat mendapat perhatian dari orang tuanya. Akhirnya, ia berhasil menjadi juara kelas, tapi tak satu pun kalimat-kalimat pujian dari orangtuanya mampir di telinganya. Harapannya pupus, saat dihadapkan kenyataan bahwa orangtuanya tetap membanding-bandingkan dirinya dengan adik perempuannya dan tidak menampakkan kebanggaan atas prestasi yang dicapainya. Ia tumbuh menjadi dewasa dengan perasaan cemburu, panas, merasa dibandingkan, tak diperhatikan.

Istrinya menduga, semua luka masa kecil itu menorehkan trauma dan menjadilah ia suami dengan mental yang tidak sehat. Semua luka masa kecil itu, seolah ia ulang kembali dan dipraktekkan pada anak laki-lakinya yang pertama. Dengan mati-matian sang istri melindungi anak lelakinya supaya hatinya tidak terluka. Setiap ayahnya menorehkan luka hati pada anak lelakinya, sang istri selalu buru-buru menyembuhkannya dengan memberinya semangat, menghibur, jajan, mengajak jalan-jalan, makan di luar, apapun dilakukan demi mental anaknya sehat.

Jadi, bukankah penyakit mental itu memang nyata kan? Bahkan akan menjadi lingkaran setan yang menular pada anak. Jika tak segera diatasi, saat anak dewasa dan menikah, ia akan meneruskan lingkaran setan itu pada keturunanya.




Komentar

Postingan Populer